Minggu, 15 Agustus 2010

gawat musculoskeletal

A. PATOFISIOLOGI DAN MEKANISME CEDERA MUSKULOSKELETAL

• Langsung :
– Kena pukulan.
– Jatuh dari ketinggian.
• Tidak langsung :
– Efek benda lain yg kena trauma (pengemudi terbentur dasboard saat mobil tabrakan).
• Memuntir
– Mis : kasus olahragawan gulat,
Akibat cedera:
• Fraktur
• Dislokasi
• Traumatik amputasi
• Strain
• Sprain
• Putus ligament
Ruftur tendon




B. PENGKAJIAN PASIEN DENGAN CEDERA MUSKULOSKELETAL

Pengkajian Primer :
• Identifikasi ABC.
• Cedera lain : kepala, cervikal, spine, thorak, abdomen, ektremitas atas dan bawah.
• Sebelum diimobolisasi, fr. Terbuka harus ditangai perdarahannya.
• Perdarahan hebat à balut tekan.

Pengkajian Sekunder Terfokus
• Status lokalis : pemeriksaan dilakukan secara sistematis : Inspeksi (Look), Palpasi (Feel), Kekuatan otot (Power), Pergerakan (Move).
• Inspeksi (look) :
• Raut muka pasien, cara berjalan/duduk/tidur.
• Lihat kulit, jar lunak, tulang dan sendi.
• Perubahan warna kulit, luka, robekan, infeksi lokal, eritema, perdarahan, hematoma, spasme, jaringan lunak dan sendi.
• Tulang : bentuk, penonjolan, deformitas
• Palpasi (Feel) :
• Suhu kulit panas atau dingin, denyutan arteri teraba/tdk, adakah spasme otot.
• Kekuatan otot (Power) :
• Grade 0,1,2,3,4,5 (Lumpuh s/d normal)
• Pergerakan (Move) :
• ROM (Range of Joint Movement)
• Pergerakan sendi : abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi dll
• POSISI KORBAN DITEMUKAN Perlu diketahui
• Etimasi kecepatan kencaraan dan jenis kerusakan kendaraan.
• Posisi pasien dalam kecelakaan (sopir atau penumpang).
• Posisi pasien setelah kecelakaan (dalam kendaraan atau di luar)
• Kerusakan bag depan mobil à resiko dislokasi panggul pengemudi
• Kerusakan dala kendaraan (setir, dasbord, kaca depan pecah)à trauma di trauma dada, dislokasi pangul, fraktur tulang belakang, klavikula.
• Penggunaan sabuk pengaman tidak tepat à fraktur tulang belakang
• Pasien jatuh dari ketinggian : berapa jarak, posisi jatuh, bgm mendarat à prediksi kerusakan.
• Pasien terlindas
• Apakah disertai ledakan à timbul cedera primer gelombang ledakan, cedera sekunder akibat pecahan atau benda lain yang terlempar


C. CEDERA JARINGAN LUNAK TERTUTUP
1. Sprain : cedera ligamen yang diakibatkan oleh peregangan berlebihan.
Tanda dan gejala :
a. Tidak berfungsinya bagian tubuh (mis betis)
b. Klien merasa adanya retak, letupan.
c. Pembengkakan, nyeri
d. Keterbatasan gerak dalam 2-3 jam
e. Rongent à kerusakan tulang.
Tindakan:
• Istirahatkan bagian yang cedera
• Kompres es
• Tinggikan bagian yang cedera
• Bebat dengan verban elastis.
• Kolaborasi dalam pemberian analgetik

2. Strain ; pereganganan pada otot dan tendon yang berlebihan.

Tanda dan gejala :
a. Nyeri yang sangat berat, rasa perih lokal.
b. Pembengkakan
c. Ekimosis sesudah beberapa hari
d. Rongent à ada atau tidaknya fraktur
Tindakan
b. Istirahatkan dan bidai
c. Kompres es
d. Tinggikan bagian yang cedera
e. Pembedahan à jika rupture jaringan
f. Penyembuhan : 4-6 minggu à aktifitas ringan
3. Dislokasi : cedera serius pada ligament dekat sendi, sehingga terlepasanya tulang dari sendi secara total / sebagian.Merupakan kondisi emegensi.

Tanda dan gejala
a. Asimetris dari sendi
b. Nyeri
c. Bengkak
d. Kehilangan fungsi
Tindakan
• Reposisi secara tertutup atau terbuka dengan kontrol anasthesi
• Imobilisasi dengan bantalan lunak
• Terapi analgetik



4. Luka tertutup.

• Jaringan di bawah kulit mengalami kerusakan à Kulit utuh.
• Hati-hati resiko cedera tersembunyi pada organ daerah kepala,dada, perut dan pelvis
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Luka tertutup :
a. Hati-hati kemungkinan penyakit menular
b. Memar besar berikan kompres dingin
c. Perubahan warna kulit luas à perdarahan luas.
d. Memar sekepalan tangan à hilang darag 10 %
e. Memar besar di kepala dada dan perut à peardarahan di dalam.
Memar di atas anggota gerak à kemungkinan fraktur

5. Luka tusuk dengan benda tertancap
Penatalaksanaan
a. Amankan benda tertancap untuk cegah pergerakan
b. Singkirkan pakaian sekitar luka
c. Kontrol perdarahan, balut tekan sekitar luka tusuk.
d. Gunakan balut besar u/ stabilkan benda
e. Jangan cabut benda yang tertancap


D. CEDERA JARINGAN LUNAK TERBUKA

1. Luka bakar
2. Luka terbuka
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Luka terbuka :
• Buka pakaian hingga seluruh luka terlihat.
• Kontrol perdarahan dengan penekanan langsung dan peninggian.
• Cegah kontaminasi, jaga luka sebersih mungkin.
• Jangan pernah coba mencabut benda tertancap
• Balut luka dengan kasa steril dan balut
• Periksa nadi distal setelah pembalutan.
3. Luka serut
4. Laserasi
5. Luka sayat
6. Luka tusuk dan luka tembus


E. PERAWATAN LUKA

• Teknik showering (irigasi).
– Gunakan Cairan normal saline / Nacl 0,9%
 Tidak tosik terhadap jaringan
 Tidak menghambat proses penyembuhan
 Tidak menyebabkan alergi
• Teknik debridement
Membantu proses penyembuhan luka à menghilangkan jaringan nekrotik
– Tehnik yang digunakan surgical debridement






F. FRAKTUR DAN PENATALAKSANAANYA PADA FASE GAWAT DARURAT
Tanda dan gejala :
• Nyeri dan kemerahan.
• Pembengkakan.
• Deformitas.
• Krepitasi.
• Keterbatasan gerak sendi.
• Bone expose.
Perubahan posisi (abnormalitas)

Prinsip penatalaksanaan fraktur
• Hentikan perdarahan pada fraktur terbuka
• Istirahatkan ektremitas yang terkena
• Tinggikan bagian distal
• Imobilisasi dua sendi (bidai)
• Kompres dingin

Evaluasi tindakan penatalaksanaan fraktur
• Tanda vital dalam batas normal
• Bagian fraktur diimobilisasi
• Kesegarisan tulang terjaga
• Bagian fraktur ditinggikan
• Status neurovaskuler dalam batas normal
• Nyeri berkurang
• Tidak muncul tanda komplikasi


G. Balut bidai
• Pengertian :
Memasang alat untuk mempertahankan kedudukan tulang.
• Indikasi :
– Patah tulang terbuka / tertutup
• Tujuan :
– Mencegah pergerakan tulang yang patah.
– Mengurangi nyeri.
– Mencegah cedera lebih lanjut.
– Mengistirahatkan daerah patah tulang.
– Mengurangi perdarahan.
• Prinsip pembidaian :
– Pastikan ABC aman.
– Kontrol perdarahan.
– Pasien sadar : informasikan adanya nyeri.
– Buka daerah yg akan dibidai.
– Periksa dan catat PMS (pulse, motor, sensasi) sebelum dan sesudah.
– Pada angulasi yang besar dan pulsasi (nadi di perifer) hilang lakukan penarikan secara gentle.
– Luka terbuka tutup dgn kasa steril.
– Bidai mencakup sendi atas dan bawah cedera.
– Berikan bantalan yang lunak.
– Bila ragu-ragu apakah ada fraktur/tdk sebaiknya lakukan bidai untuk pencegahan.

H. MENGHENTIKAN PERDARAHAN

a. Balut tekan.
- Gunakan kasa steril yang cukup tebal.
- Bebat dengan verban elastis atau
verban gulung
- Bebat jangan terlalu ketat
- Lokasi yang sulit dibebat, tekan dengan
kasa tebal selama 5 menit.
Cara pemasangan Tourniquet
• Pilih verban 10 cm buatlah 6-8 lapis
• Lilitkan disekeliling anggota gerak, diproksimal sebelum luka
• Talikan simpul pada verban, letakkan pengait pada bagian verban.
• Putar pengait sampai perdarahan berhenti kemudian kunci pada posisinya
• Catat waktu, dilonggarkan setiap 30 menit.

I. INTERVENSI KEPERAWATAN
Resiko peluasan cedera.
• Istirahatkan ekstremitas yang luka
• Lakukan perawatan luka dan perdarahan
• Lakukan imobilisasi ekstremitas yang fraktur
• Lakukan pembidaian
• Tinggikan bagian yang fraktur

Gangguan rasa nyaman nyeri
• Mengkaji intensitas nyeri, lokasi dan lama nyeri.
• Memberikan posisi yang anatomis dan nyaman bagi pasien.
• Menganjarkan untuk tehnik relaksasi (tarik napas dalam)
• Melakukan tindakan bidai.
• Mengukur tanda-tanda vital setiap ?
• Kolaborasi dalam pemberian analgetik

Gangguan volume cairan
• Pasang IV line dua jalur dengan jarum besar, larutan kristaloid hangat.
• Hentikan perdarahan dengan teknik balut tekan.
• Pasang kateter,monitor urine output tiap jam
• Observasi tanda-tanda vital tiap jam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar